Aku Sekolah Minggu..!!


“abang…!! aku yang baca puisi waktu pesta sekolah minggu nanti ya..!!” teriak salah seorang anak sekolah minggu.

“aku gak brani maju kedepan..” kata anak sekolah minggu yang lain..

“pesta sekolah minggu nanti, kami dapat hadiah kan bang??” yang lain ikut juga bertanya..

Dunia Anak adalah dunia dimana kita masih dapat bermain tanpa beban, menangis, tertawa, takut, dan malu. Begitu juga dengan anak sekolah minggu GKPS, mereka kadang gak bisa diatur, hiperaktif, malu, diem bila ditanya, yang semua itu bikin pening kepala, TETAPI MENYENANGKAN…!! itulah yang saya rasakan ketika mencoba memberikan waktu untuk melayani di Sekolah Minggu GKPS Semarang. Ketika mencoba untuk melayani di seksi sekolah minggu, saya mencoba mempelajari bagaimana Sekolah Minggu GKPS itu dimulai.

1.                  Sejarah Lahirnya Sekolah Minggu.

Kalau kita menelusuri kembali ke jaman Perjanjian Lama, maka sebenarnya Alkitab telah memberikan perhatian yang serius terhadap pembinaan rohani anak. Pada masa itu pembinaan rohani anak dilakukan sepenuhnya dalam keluarga (Ulangan 6:4-7). Sejak sebelum usia 5 tahun anak telah dididik oleh orang tuanya untuk mengenal Allah Yahweh. Pada masa pembuangan di Babilonia (500 SM), ketika Tuhan menggerakkan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan bangsa Israel kepada Taurat Tuhan, maka dibukalah tempat ibadah sinagoge dimana mereka dapat belajar Firman Tuhan kembali, termasuk diantara mereka adalah anak-anak kecil. Orangtua wajib mengirimkan anak-anaknya yang berusia di bawah 5 tahun ke sekolah di sinagoge. Di sana mereka dididik oleh guru-guru sukarelawan yang mahir dalam kitab Taurat. Anak-anak dikelompokkan dengan jumlah maksimum 25 orang dan dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru adalah fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Ketika orang-orang Yahudi yang dibuang di Babilonia diijinkan pulang ke Palestina, maka mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah sinagoge ini di Palestina sampai masa Perjanjian Baru. Tuhan Yesus ketika masih kecil, juga sama seperti anak-anak Yahudi yang lain, menerima pengajaran Taurat di sinagoge. Dan pada usia 12 tahun Yesus sanggup bertanya jawab dengan para ahli Taurat di Bait Allah. Tradisi mendidik anak-anak secara ketat terus berlangsung sampai pada masa rasul-rasul (1 Tim 3:15) dan gereja mula-mula. Namun, tempat untuk mendidik mereka perlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di sinagoge tetapi di gereja, tempat jemaat Tuhan berkumpul.

Tetapi sayang sekali pada Abad Pertengahan gereja tidak lagi memelihara kebiasaan mendidik anak seperti abad-abad sebelumnya.

Dimulai dari seorang dermawan Inggris yang sangat peduli terhadap anak-anak. Pada abad ke 18, Inggris dilanda krisis ekonomi yang sangat parah sebagai akibat dari revolusi industri. pada saat itu banyak anak anak yang harus menjadi tenaga kerja di pabrik pabrik sebagai buruh kasar. Mereka bekerja selama enam hari, dari hari senin sampai sabtu dan pada hari minggu anak-anak itu libur. Karena mereka hanya bisa libur dihari minggu dan bertepatan mereka digaji sekali seminggu, mereka bermain dan bergembira dihari minggu saja. Akibatnya mereka menjadi sangat liar dan buas dan kebanyakan mereka menggunakan uang penghasilan mereka untuk hal hal yang tidak berguna seperti minum minuman keras. Melihat hal tersebut seorang yang dermawan tersebut mencoba untuk merubah situasi yang terjadi saat itu. Dia ingin anak anak itu mempunyai tata krama dan ilmu pengetahuan. Menurut dia, buku yang tepat untuk menjadi buku pelajaran bagi mereka adalah ALKITAB. Dia mulai mengajak dan mengumpulkan anak anak itu. Dia kemudian memulai sekolah minggu ini di dapur Ny. Mederith di kota Scooty Alley pada Juli 1780. Disana dia mengajari anak anak itu ilmu pengetahuan, tata krama, dan memberi merka makan. Dalam dua tahun, sekolah minggu dibuka di beberapa sekolah dan di sekitar Gloucester. Dia kemudian mempublikasikan sekolah minggu melalui Gentleman’s Magazine dan juga Arminian Magazine pada 1784. Akhirnya atas bantuan John Wesley (pendiri Gereja Methodis), kehadiran sekolah minggu diterima juga oleh gereja, mula-mula oleh Gereja Methodis, akhirnya gereja-gereja Protestan lain. Pada tahun 1831, sekolah minggu di Inggris telah mengajar 1.250.000 anak, sekitar 25 persen dari populasi.

Dermawan itu adalah Robert Raikes. Dia lahir di Gloucester pada 1736, anak sulung dari Mary Drew dan Robert Raikes seorang penerbit surat kabar. Dia dibaptis pada tanggal 24 September 1736 di gereja St. Mary de Crypt di Gloucester.

2.                  Dasar-dasar Pelayanan Sekolah Minggu

Berikut ini dasar Alkitab dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengenai pelayanan sekolah minggu.

  • Pelayanan Anak Masa Perjanjian Lama (Ulangan 6:4-7)
    • Pembinaan rohani anak dilakukan sepenuhnya dalam keluarga (Ulangan 6:4-7).
    • Pada zaman pembuangan ke Babilonia, orang tua wajib mengirimkan anak-anaknya yang berusia di bawah lima tahun ke sinagoga untuk dididik oleh guru-guru sukarelawan yang mahir dalam kitab Taurat. Anak-anak dikelompokkan dengan jumlah maksimum 25 orang dan dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru menjadi fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
  • Pelayanan Anak Masa Perjanjian Baru (1 Timotius 3:15)
    • Ketika orang-orang Yahudi yang dibuang di Babilonia diizinkan pulang ke Palestina, mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah sinagoge ini di Palestina sampai masa Perjanjian Baru.
    • Tradisi mendidik anak-anak secara ketat terus berlangsung sampai pada masa rasul-rasul (1 Timotius 3:15) dan gereja mula-mula. Namun, tempat untuk mendidik anak perlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di sinagoge tetapi di gereja, tempat jemaat Tuhan berkumpul.

3.                  Harapan Sekolah Minggu GKPS Kedepan

Pastinya kita berharap Sekolah Minggu GKPS bisa bertumbuh dan menjadi terang ditengah tengah masyarakat. Untuk menuju kesana, perlu pembekalan terhadap Guru-guru Sekolah Minggu dan Koordinasi dengan GSM jemaat yang lain. Disamping itu, hubungan yang baik antara orang tua dan GSM akan memaksimalkan pertumbuhan iman daripada sang ASM.

“Paturut hanima ma dakdanak in roh hu Bakku, ulang pandang hanima sidea, ai bani halak sisonin do harajaon ni Naibata”.

(Markus 10 : 14)

Referensi :

http://www.gsja.web.id/berita-175-sejarah-sekolah-minggu.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Minggu#Dasar-Dasar_Pelayanan_Sekolah_Minggu_Anak

2 Responses to “Aku Sekolah Minggu..!!”

  1. wah udah mulai nulis ni yeee…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: