RUU PT, (Tidak) Sama Dengan UU BHP..??!!



Pedidikan adalah Modal utama dalam menjalani kehidupan, dan Perguruan Tinggi adalah salah satu tempat untuk memperoleh pendidikan itu. Di Negri ini gelar “Sarjana” seolah olah menjadi syarat khusus untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Mengingat masih rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk menciptakan lapangan kerja sendiri dan didukung dengan sulitnya kepengurusan di birokrasi dalam mendirikan ijin ditambah pemerintah yang setengah-setengah dalam mendukung usaha kecil menengah. Keadaan ini membuat masyarakat Indonesia lebih memilih untuk mencari pekerjaan daripada mencipatakan lapangan kerja baru. Dalam mecari dan menciptakan lapangan pekerjaan dibutuhkan suatu ilmu pendidikan, dan salah satu tempat untuk memperoleh pendidikan itu adalah Perguruan Tinggi.
Akhir-akhir ini para penuntu ilmu diperguruan tinggi merasa khawatir dan bimbang dalam melanjutkan pendidikan mereka, terlebih bagi mahasiswa yang kurang mampu. Setelah masa Undang-undang Badan Hukum Pendidikan Berakhir (UU BHP) pemerintah kembali memunculkan Rancangan Undang-undang Perguruan Tinggi (RUU PT). Situasi ini seperti menggambarkan bahwa pemerintah tidak mau kalah dengan masyarakat Indonesia. Kegagalan mereka dalam UU BHP sepertinya akan dibalasakan melalui RUU PT ini.
1. Undang Undang Badan Hukum Pendidikan
Pada akhir tahun 2008 dunia pendidikan di Indonesia mengalami suatu perubahan. Disahkannya UU BHP pada tanggal 17 Desember 2008 oleh DPR RI, membuat suasana pendidikan di Indonesia semakin tidak jelas. Banyak yang mendukung dengan disahkannya RUU tersebut tetapi lebih banyak lagi yang menentang keberadaan Undan undang tersebut. UU BHP menempatkan satuan pendidikan sebagai subjek hukum yang memiliki otonomi luas, akademik maupun non akademik, tanpa khawatir lagi dengan kooptasi birokrasi. Otonomi yang diberikan dikunci oleh Undang-Undang BHP harus dilandasi oleh prinsip-prinsip seperti nirlaba, akuntabilitas, transparan, jaminan mutu dan seterusnya yang memastikan tidak boleh ada komersialisasi dalam BHP.
Namun dibalik idealisme dan tujuan Undang-Undang BHP itu dibuat, muncul kritik-kritik dari beberapa kalangan yang mengatakan bahwa BHP adalah sebuah produk undang-undang yang digerakkan oleh mitos otonomi. BHP tidak lebih dari sebuah bentuk lepas tangan Negara atas pembiayaan pendidikan nasional. Lembaga Pendidikan akan mengarah pada tujuan pragmatis komersil ketimbang pada tujuan kritis dan blok histories yang mencerdaskan bangsa dan melahirkan putra-putra terbaik yang bisa membaca tanda-tanda zaman. Pada akhirnya BHP melegasisasi suatu kesempatan kepada satuan pendidikan untuk memberi peluang bagi calon mahasiswa berkapasitas intelegensia rendah untuk mengambil kursi mahasiswa lain yang berkualitas tinggi jika mampu memberi imbalan tertentu.
Pada akhirnya dengan banyaknya kritikan kritakan terhadap keberadaan UU BHP tersebut, maka oleh Mahkamah Konstitusi UU BHP ini telah dicabut. Dalam pencabutan UU BHP tersebut, MK memberikan 5 (lima) alasan mengapa MK mengugurkan eksistensi dari UU BHP tersebut,
1. UU BHP mempunyai banyak kelemahan baik secara yuridis, kejelasan maksud dan keselarasan dengan UU lain.
2. UU BHP mempunyai asumsi penyelenggara pendidikan di Indonesia mempunyai kemampuan sama. Tapi, realitasnya kesamaan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tak berarti semua PTN mempunyai kesamaan yang sama.
3. Pemberian otonomi kepada PTN akan berakibat beragam. Karena lebih banyak PTN yang tidak mampu menghimpun dana karena terbatasnya pasar usaha di tiap daerah. Hal ini akan menyebabkan terganggunya penyelenggaraan pendidikan.
4. UU BHP tidak menjamin tercapainya tujuan pendidikan nasional dan menimbulkan kepastian hukum. UU BHP bertentangan dengan pasal 28D ayat 1, dan Pasal 31 UUD 1945.
5. Prinsip nirlaba tak hanya bisa diterapkan dalam BHP tapi juga dalam bentuk badan hukum lainnya.
Dan pada akhirnya, kekuatan dan kepentingan rakyatlah yang menang mengalahkan segala kepentingan kepentingan pribadi dari orang orang yang berkuasa.

2. Rancangan Undang Undang Perguruan Tinggi
Dalam RUU ini, pendidikan tinggi akan dikelompokkan menjadi perguruan tinggi otonom, semi-otonom, dan otonom terbatas (pasal 77). Menurut pengamat pendidikan, paling tidak ada tiga hal yang menjadi kekhawatiran.
Pertama, RUU ini memberi perhatian yang rinci kepada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan terkesan mengabaikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Beberapa BAB dan pasalnya konon menunjukkan diskriminasi tersebut. Aptisi (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) telah mengeluarkan pernyataan sikapnya untuk menolak RUU ini.
Kedua, pendanaan dan pengelolaannya diserahkan kepada pihak universitas dengan dalih otonomi kampus. Kekhawatiran yang muncul disini adalah penetapan biaya pendidikan oleh Rektor yang akan tinggi. Hal lain yakni adanya upaya pemerintah untuk melepas tanggungjawab membiayai pendidikan. Hasil akhirnya adalah privatisasi dan bisnis pendidikan.
Ketiga, adanya aturan yang membolehkan kehadiran Perguruan Tinggi Asing di Indonesia. Jelas, alasan penolakan adalah, persaingan yang tidak proporsional. Apalagi mengingat masyarakat Indonesia senang terhadap yang berbau Luar Negeri. Bisa bias perguruan tinggi di Indonesia sepi peminat bahkan tidak mempunyai mahasiswa (mahasiswa yang mampu kuliah Perguruan Tinggi asing sedangkan mahasiswa dari gologan tidak mampu tidak akan pernah merasakan bangku kuliah, jangankan untuk kuliah di Perguruan Tinggi Asing, di Perguruan Tinggi Milik Negeri Sendiri aja tidak sanggup untuk membayar.
Dari beberapa perbandingan diatas, bias dikatakan RUU PT adalah nama lain dari UU BHP karena lebih mengutamakan Otonomi Kampus dalam menentukan setiap kebijakan kebijakan yang pada ujung ujungnya nanti adalah mengorbankan mahasiswa.
Pandangan pandangan diatas sebenarnya hanya pandangan pribadi apabila pimpinan Universitas / Rektor tidak mampu bekerja dengan baik, tidak mempunyai ide ide dalam pemenuhan dana untuk pembiayaan aktivitas kampus. Tetapi apabila yang terjadi sebaliknya, bukankah mahasiswa akan lebih diuntungkan..??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: